Postingan

Mengingat Gelas Kopi

 Mengingat Gelas Kopi 1. Gelas kopi itu, kata kekasihku, tak bisa menampung air mata yang panas untuk melarutkan bubuk kangen disetiap adukannya. 2. Gelas kopi ini, kata hatiku sendiri, adalah yatim dari belaian dan kecupmu yang panas. 3. Gelas kopi, kata seorang pendosa, menyiram-melukai tangannya yang tak pernah mau menyebut namaMu ditiap seduhannya.
Gambar
Akan Satu Resahmu adalah sedihku juga lama kita cari kata namun hasil sama ketika mata saling menatap lebih lama cari ketulusan dalam diri kemunafikan Jauh kita berlari, tetapi kaki tetap berjaga dalam bibir terbuka senyum itu mengudara menyulut api perjuangan sandiwara cinta tetapi dalam hatimu bukan aku penghuninya Tanganmu sibuk cari hangat yang berbeda tetapi pundakku ratapi pendekatan cara kita dalam satu peristiwa saja kau bisa buat cinta lalu dilenyapkan dalam argumen orang tua Hatiku akan menjadi rumah yang ramah di beranda atau lewat jendela, tak apa kau masuk dalam terpaksa atau tidaknya aku tetap merindu kata kita saat bercerita Kau kutunggu sampai kita sama-sama ada dalam lapuknya tulang atau bendera duka kepulangan - mesinketik

Satu Tatap

Gambar
Satu Tatap Tatapmu adalah kedipku juga biar purnama yang mahir mengukir cerita di punggung jendela atau di kepala atapmu meski kautolak dengan satu renjana Lama bertanya mengapa kita ada dan aku tahu betul kita ini siapa katamu: rasa yang lahir biarkan mengalir dan kita sampai di mana aliran itu terputus Rupamu adalah pengikat yang kuat tak mampu berontak atau ingin melepas bila bergerak, dada terasa sesak aduhai, kau mahir betul dalam urusan memikat Kita hampir dekat mendapat jawab kau dan aku tidak lagi dua kata terpisah namun sepasang kasih yang sedang gelisah berharap lebih dekat dan satu saling menetap - mesinketik

Penindasan Kekuasaan

Penindasan Kekuasaan Dengar! Suara gugur dari makna merdeka penguasa selalu punya banyak cara dari rintihan rakyat yang tak didengar sampai umbar kenaikan kebutuhan menjalar Katanya: mari bela negara bersama rakyatnya tidak? Oh jelas kan hanya alat Ada banyak di dompetnya kartu pelindung sewaktu-waktu masuk dalam sangkar burung keadilan bagi kami hanya dalam ejaan saja apa mau begini terus kalimat terakhirnya? Bila Garuda dikenal dengan lima silanya terapannya ke mana? Ah jangan bercanda sembunyi di balik meja sudah tidak bisa ternyata hanya terlihat di dinding istana Katanya: mari majukan negara bersama rakyat tidak? Jelas hanya keturunan istana saja Rumah semakin tinggi di bangun dari uang beras raskin sekampung mobil dan perhiasan mewah disembah hasil dari hak kesehatan masyarakat yang telah disumpah Akan tiba waktunya, suara kita jadi peluru yang dimasak panas menembak dada dan akal bengisnya dan mengibarkan kemerdekaan sesungguhnya - mesinketik

Duka Indonesia Raya

DUKA INDONESIA RAYA Kerusuhan adalah balasan olahan pemerintahan Siapa tak tahan? Ketika alat jadi perahan Di balik meja; tawa tak tertahankan Bualan! Hidup dengan kemunafikan untuk sumber kekayaan Di lorong, rakyat melolong menolak kebohongan Senapan dan kekerasan siap untuk menghadang Tetapi; kami tidak ingin mati dikebiri  Negeri ini hancur dengan ulah pemimpin sendiri Barangkali janji hanya sebagai umpan. Tak mempan!  kami tak takut dengan jajahan! Kalian hanya budak-budak pion pemerintahan. Kalian hanya tikus-tikus got yang rakus kekuasaan. Kalian, Kalian hanya manusia-manusia buta tak punya jiwa yang miskin atensi disertai rasa tidak peduli pada kami; yang katanya kalian wakilkan. Cuih! Bahkan tak sudi rasanya kusebut kalian manusia. Toh memanusiakan manusia pun tidak. Hahaha! Seumpama hati ikut merdeka, Negeri ini akan jauh dari kata nestapa. Seumpama korupsi—korporasi di kebiri, Negeri ini kaya r...

O, Kartini biar aku yang mengganti

O, Kartini biar aku yang mengganti Indah nian hidup sebagai wanita idaman adam Pagi sampai malam; cinta tak pernah tenggelam Kebaya dan mahkota seraya berpasangan Kecantikan adalah hadiah seserahan pernikahan Kandil memanggil: mari kita menari Ia ingin menyulut semangat Agar tak kaku saat tiba musim dingin Merona saat musim semi tiba sesaat Dari bilik-bilik jendela Beberapa wanita menggila Diperkosa tak kenal segala usia Hidupnya hancur—pilih jadi pelacur O Kartini, bakar jiwa kami Biar penerusmu mengganti Emansipasi wanita—pemberani Kecerdasaan tetap harus dijunjung tinggi Ingat ini Kartini! Semangatmu abadi Kuraih cita-citamu lagi Wanita perlu dihargai; bukan dipermalukan harga diri - mesinketik

Aura, kata pujangga

Aura, kata pujangga Aura, tepat kata pujangga dalam renung nasib dan bahagia ketika hati tak hati-hati tempatkan sisi siapa berani? meradang segala halangan perestuan dan perseteruan hamilkan umpatan sembunyi wajah dari bilik penyesalan tetes air matanya adu kecepatan tetapi pundak berdiri tetap tegak kesedihan disulam jadi pakaian bias tatap mata bahagia tak tenaga lentik jari tak kuasa: lepas genggamannya di beranda angin bersejuk suasana sebelum lampu tertidur dari lamunan ada dari yang lain dipikirkan! tiba pertanyaan usai tiada nestapa memantik kata-kata Menarilah pada kaca, Aura bila belati begitu nyeri terasa di dada kita belum apa-apa di balik lima warsa pun sejahtera pada tempat biasa kata jangan kau tanya ke mana aku pergi; buka hati lalu pahami isi, aku tak pernah mati! - mesinketik